Lompat ke konten utama
Kesehatan Fisik

Mengapa Hustle Culture Dianggap sebagai Budaya Toksik? Ini Cara untuk Menghindarinya

07/2025
hustle culture


Anda mungkin sudah sering mendengar istilah hustle culture dan perdebatan mengenai budaya kerja yang dianggap toksik oleh banyak orang ini, kan? Jadi, apa alasannya?

Ini karena hustle culture merujuk pada budaya kerja yang tidak pernah berhenti hingga mengabaikan kebutuhan untuk beristirahat. Budaya ini juga menormalkan kerja berlebihan atau "gila kerja".

Baca artikel ini untuk mengetahui penjelasan lengkap mengenai hustle culture, apa dampak positif dan negatifnya, hingga cara untuk menghindarinya.
 

Pengertian Hustle Culture

Menurut situs Work Human, hustle culture adalah dorongan untuk bekerja lebih keras dengan cara apa pun yang diperlukan, tetapi sering kali dengan mengorbankan perawatan diri dan kesehatan mental dan fisik.

Keyakinan yang tersebar luas adalah bahwa untuk mencapai tujuan profesional, Anda harus bisa menerima pada tekanan tanpa henti untuk bekerja lebih baik. Ini membuat Anda bekerja berjam-jam lebih lama atau mengambil lembur kapan pun ditawarkan.

Budaya kerja keras ini semakin terasa selama pandemi COVID-19 ketika batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur karena banyak karyawan mulai bekerja dari rumah.

Baca juga: Manajemen Stres Untuk Kelangsungan Pekerjaan
 

Asal Mula Budaya Kerja Ini 

Ideologi hustle culture berasal dari perusahaan teknologi pada 1990-an, ketika Silicon Valley mulai mengambil alih. Meskipun para pemimpinnya sering dipandang sebagai inovator yang mengesankan, budaya internal perusahaan-perusahaan tersebut sering kali tidak sehat.

Budaya kerja ini memunculkan gagasan bahwa kesuksesan dapat dicapai oleh siapa saja yang mau bekerja keras. Sayangnya, banyak orang yang melakukannya dengan mengorbankan kesejahteraan sendiri.
 

Kelebihan Hustle Culture

Meskipun dianggap sebagai budaya kerja yang buruk, tetapi Forbes mengakui bahwa ada dampak positif dari hustle culture, yaitu sebagai berikut.
 

1. Peningkatan Produktivitas

Seperti namanya, budaya kerja keras mendorong ide seseorang untuk bekerja keras dan mencapai lebih banyak hal yang dapat menghasilkan peningkatan produktivitas. Akhirnya, Anda jadi lebih mampu untuk menyelesaikan lebih banyak tugas dan tujuan.
 

2. Memberikan Motivasi

Hustle culture dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi yang mendorong Anda untuk menetapkan dan mencapai standar yang tinggi untuk diri sendiri agar dapat melangkah lebih jauh.
 

3. Kesuksesan Profesional

Karena memungkinkan Anda untuk mencapai tujuan dan maju dalam karir, budaya kerja ini mempromosikan gagasan bahwa karir akan menjadi tanggung jawab diri sendiri.

Baca juga: Bukan Hanya Kebetulan: Apa Penyebab Kecelakaan Kerja Terjadi?
 

Dampak Buruk Hustle Culture

Seperti yang disebutkan di atas, banyak yang menyebut budaya kerja ini toksik karena memiliki banyak kekurangan. Berikut adalah beberapa di antaranya:
 

1. Menyebabkan Burnout

Hustle culture hampir selalu dapat menyebabkan burnout karena tekanan terus-menerus untuk bekerja keras dan mencapai lebih banyak, dapat berdampak pada kesehatan mental dan fisik.
 

2. Kurangnya Work-Life Balance

Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work-life balance akan berkurang secara drastis jika Anda terlalu sibuk bekerja. Hustle culture dapat menyebabkan Anda mengabaikan aspek penting lain dalam hidup, seperti hubungan dan perawatan diri.

Seperti yang dituliskan dalam sebuah buku, “Pekerjaan tidak akan membuat Anda tetap hangat di malam hari.”
 

3. Stres dan Kecemasan

Budaya kerja keras juga dapat menciptakan lingkungan yang penuh tekanan dan menimbulkan kecemasan. Ini karena Anda mungkin merasa tertekan untuk selalu berprestasi dan mencapai kesuksesan.
 

4. Dampak Hustle Culture pada Kesehatan Fisik

Meningkatnya tingkat stres juga dapat berdampak besar pada kesehatan fisik, yang bisa membuat Anda merasakan hal-hal berikut:

  • Kelelahan secara fisik

  • Peningkatan risiko penyakit kardiovaskular

  • Masalah pencernaan

  • Kesulitan tidur

  • "Kambuhnya" penyakit yang sudah ada

  • Berkurangnya fungsi sistem kekebalan tubuh

  • Tekanan darah tinggi
     

Cara Menghadapi Budaya Ini di Tempat Kerja

Sebenarnya, ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk melindungi diri sendiri dari hustle culture, bahkan di tempat kerja yang paling toksik. Berikut beberapa caranya:
 

1. Tetapkan Tujuan Profesional yang Realistis

Ada karyawan yang berambisi untuk naik jabatan. Namun, jika Anda merasa senang tetap menjadi kontributor individu dan tidak memimpikan beban kerja lebih tinggi atau memimpin tim besar, itu sama sekali tidak ada yang salah.

Jika itu memang tujuan profesional Anda, jangan terpengaruh dengan pendapat orang lain. Menetapkan tujuan yang realistis justru dapat membantu memastikan bahwa kinerja Anda tidak diukur berdasarkan tujuan orang lain.
 

2. Menolak Melakukan Banyak Tugas

Multitasking adalah salah satu jalan tercepat menuju stres dan kelelahan. Tidak realistis untuk mengharapkan Anda mampu melakukan banyak aktivitas dalam satu waktu, yang sering kali justru berdampak negatif pada kualitas pekerjaan.

Dengan fokus pada satu tugas dalam satu waktu, Anda dapat membantu mengurangi tingkat stres diri sendiri dan memastikan bahwa pekerjaan diselesaikan dengan akurasi dan fokus yang lebih baik.
 

3. Buat Batasan yang Kuat terhadap Hustle Culture

Meskipun terlihat menakutkan untuk belajar mengatakan "tidak" kepada atasan, tetapi sangat penting untuk belajar menegakkan batasan yang kuat. Lakukan ini terutama dengan atasan yang memiliki ekspektasi tidak realistis.

Batasan yang diberikan bisa berupa tidak menjawab panggilan kerja atau email di luar jam kerja atau tidak membawa pulang pekerjaan ke rumah di akhir pekan. Ini akan membantu diri sendiri merasa lebih berdaya dan memegang kendali.

Baca juga: Menjaga Keseimbangan Kehidupan Kerja dan Keluarga
 

4. Jadwalkan Waktu Istirahat 

Meskipun Anda merasa lebih produktif ketika bekerja sambil makan siang atau duduk di depan komputer sepanjang hari tanpa jeda, tetapi dalam jangka panjang itu akan berdampak negatif pada kesehatan.

Mengabaikan kesehatan fisik dan mental untuk menyelesaikan tugas dalam jangka waktu yang tidak realistis tanpa istirahat, hanya akan menyebabkan kelelahan, kebencian, dan kurangnya produktivitas di kemudian hari.

Berhenti sejenak dan beristirahat justru dapat membantu Anda mengisi bahan bakar, memulihkan tenaga, dan kembali bekerja dengan lebih positif.
 

5. Gunakan Cuti yang Diberikan Kantor

Tempat kerja memberikan jatah cuti berbayar karena suatu alasan. Jika Anda tidak bisa mengambil cuti panjang karena beban kerja tidak memungkinkan, gunakan waktu cuti untuk menambah waktu liburan akhir pekan.

Dengan secara berkala melakukannya, Anda dapat mengisi ulang tenaga dan kembali bekerja dengan perasaan segar dan lebih fokus. Hal tersebut tentu saja akan berdampak positif pada kesehatan mental dan fisik Anda.

Itulah penjelasan mengenai hustle culture yang bisa memengaruhi kesehatan fisik dan mental. Untuk itu, pastikan Anda memiliki perlindungan yang tepat untuk melindungi kesehatan fisik, seperti asuransi kesehatan Health Protection dari Chubb Life. Dengan memiliki asuransi, Anda jadi tak perlu pusing lagi memikirkan biaya saat harus berobat ke rumah sakit.

Ada banyak keuntungan yang didapatkan jika Anda memiliki asuransi kesehatan Health Protection. Pertama, Premi yang ditetapkan sangat murah, yaitu mulai dari Rp79.000 per bulan, tetapi Manfaat Pertanggungan Utama hingga Rp70.000.000. 

Lalu, asuransi ini tidak perlu pemeriksaan kesehatan saat pendaftaran, tetapi terdapat masa tunggu mulai dari 30, 60, hingga 365 hari.

Selain untuk diri sendiri, Anda bisa mengikutsertakan pasangan dan anak dengan Masa Perlindungan Asuransi Tahunan dapat diperpanjang hingga Tertanggung atau Tertanggung pasangan berusia 64 tahun dan Tertanggung Anak mencapai usia 23 tahun.

Segera daftar sekarang untuk mendapatkan Health Protection dari agen berlisensi kami yang selalu siap sedia untuk membantu Anda menyusun rencana sesuai dengan kebutuhan.
 

 

 

related product