Family Care Optima
Saat masih single, sebagian besar penghasilan mungkin digunakan untuk kebutuhan pribadi. Mengelola strategi keuangan dirasa lebih mudah karena kamu bisa leluasa menentukan berapa banyak uang yang ingin digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, hiburan, tabungan, atau investasi.
Namun, situasinya akan berubah ketika menikah. Kamu mulai memiliki tujuan bersama pasangan, seperti membeli rumah atau mempersiapkan kehadiran anak.
Ketika sudah memiliki anak, kebutuhan kembali bertambah karena ada biaya kesehatan, pendidikan, hingga perlindungan keluarga yang perlu dipersiapkan.
Masalahnya, perubahan tahap kehidupan terkadang tidak diikuti dengan perubahan strategi keuangan. Cara mengatur uang yang terasa cukup saat masih single, tentu belum sesuai ketika sudah memiliki pasangan dan anak.
Jika tidak dievaluasi, penghasilan yang sebelumnya terasa mencukupi bisa semakin terbagi ke banyak kebutuhan dan membuat tujuan finansial sulit tercapai.
Setiap perubahan besar dalam kehidupan biasanya membawa konsekuensi finansial baru. Misalnya saat sudah menikah, tentunya keputusan keuangan tidak lagi hanya berhubungan dengan diri sendiri.
Kehadiran anak juga akan menambah kebutuhan rutin sekaligus tujuan jangka panjang. Begitu pula ketika anak semakin besar, biaya pendidikan yang sebelumnya masih jauh mulai semakin dekat. Karena itu, strategi keuangan sebaiknya tidak dibuat sekali kemudian digunakan selamanya.
CFPB mengatakan bahwa pernikahan, kelahiran anak, membeli rumah, hingga kehilangan pekerjaan menjadi life events yang membutuhkan perencanaan strategi keuangan yang berbeda.
Artinya, tidak merencanakan dan menyiapkan dana untuk berbagai perubahan kehidupan dapat membuat dana yang dibutuhkan tidak tersedia ketika waktunya tiba.
Karena itu, setiap memasuki tahap kehidupan baru, kondisi keuangan sebaiknya ikut dievaluasi.
Saat masih single dan belum memiliki banyak tanggungan, penghasilan biasanya lebih fleksibel digunakan. Namun, fleksibilitas ini juga bisa menjadi masalah jika sebagian besar pendapatan selalu habis untuk kebutuhan dan gaya hidup saat ini.
Padahal, fase ini dapat menjadi kesempatan untuk membangun fondasi keuangan sebelum tanggungan semakin besar. Karena itu, coba strategi berikut ini:
Mulailah menyisihkan sebagian penghasilan untuk menghadapi kebutuhan tidak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, kebutuhan medis, atau pengeluaran mendesak lainnya.
Dana darurat dapat membantu agar kebutuhan mendadak tidak langsung mengganggu tabungan atau investasi yang sudah dipersiapkan.
Pendapatan meningkat tidak selalu berarti kondisi finansial ikut membaik.
Jika setiap kenaikan penghasilan selalu diikuti peningkatan gaya hidup, ruang untuk menabung dan berinvestasi tidak banyak berubah.
Kamu tetap dapat menikmati hasil kerja, tetapi pastikan peningkatan pengeluaran tidak mengorbankan tujuan jangka panjang.
Dengan tanggungan yang relatif lebih sedikit, masa single dapat dimanfaatkan untuk mulai membangun investasi.
Tentukan tujuan terlebih dahulu, kemudian pilih instrumen investasi sesuai jangka waktu dan profil risiko. Misalnya untuk membeli rumah, melanjutkan pendidikan, membangun usaha, atau mempersiapkan dana pensiun.
Aset tidak selalu berbentuk properti atau investasi finansial.
Mengikuti pelatihan, mengambil sertifikasi, atau mempelajari keterampilan baru juga dapat menjadi investasi untuk meningkatkan kemampuan dan potensi penghasilan di masa depan.
Baca Juga: 6 Cara Mengelola Keuangan Sejak Dini untuk Pemula
Setelah menikah, strategi keuangan yang sebelumnya dibuat sendiri perlu disesuaikan. Kini ada dua orang yang berbeda kondisi keuangannya, kebiasaannya mengelola uang, serta tujuan yang perlu diselaraskan.
Jika masing-masing tetap mengatur keuangan seperti saat masih single tanpa membicarakan tujuan bersama, kamu dan pasangan tentu bisa kesulitan menentukan prioritas.
Mulailah dengan mengetahui kondisi masing-masing, termasuk pendapatan, pengeluaran rutin, tabungan, investasi, dan utang.
Keterbukaan ini penting agar keputusan finansial dibuat berdasarkan kondisi yang sebenarnya.
Diskusikan apa yang ingin dicapai dalam beberapa tahun ke depan. Misalnya membeli rumah, kendaraan, mempersiapkan kehadiran anak, atau membangun investasi bersama.
Tujuan tersebut akan membantu menentukan prioritas pengeluaran dan berapa banyak dana yang perlu dialokasikan setiap bulan.
Anggaran saat masih single tentunya berbeda dengan setelah menikah.
Selain kebutuhan pribadi, kini terdapat kebutuhan rumah tangga yang perlu diperhitungkan. Tentukan pembagian tanggung jawab sesuai kondisi finansial dan kesepakatan bersama.
Setelah menikah, kebutuhan darurat tidak lagi hanya menyangkut diri sendiri.
Karena itu, evaluasi kembali dana darurat dan sesuaikan dengan jumlah pengeluaran rumah tangga serta kondisi pendapatan pasangan.
Jika kondisi keuangan memungkinkan, fase ini juga dapat digunakan untuk mulai membangun aset jangka panjang.
Aset tersebut dapat berupa rumah maupun instrumen investasi yang dipersiapkan untuk mencapai tujuan finansial bersama.
Baca Juga: 5 Cara Mengatur Keuangan Bagi Pasangan yang Baru Menikah
Kehadiran anak menjadi salah satu perubahan terbesar dalam keuangan keluarga.
Pengeluaran rutin meningkat untuk kebutuhan sehari-hari, kesehatan, pengasuhan, hingga pendidikan. Di saat bersamaan, keluarga juga perlu memikirkan kebutuhan yang mungkin baru muncul beberapa tahun kemudian.
Jika strategi keuangan tidak berubah sejak awal pernikahan, berbagai kebutuhan tersebut bisa saling berebut alokasi dana.
Evaluasi seluruh pengeluaran setelah memiliki anak.
Beberapa pengeluaran lama mungkin perlu dikurangi agar terdapat ruang untuk kebutuhan anak, dana pendidikan, investasi, dan tujuan keluarga lainnya.
Biaya pendidikan merupakan kebutuhan jangka panjang yang sebaiknya tidak baru dipikirkan ketika anak mendekati usia sekolah atau kuliah.
Semakin awal persiapan dilakukan, semakin panjang waktu yang tersedia untuk mengumpulkan dana.
Memiliki anak bukan berarti seluruh tujuan keuangan orang tua harus dihentikan.
Dana pendidikan memang penting, tetapi persiapan membeli rumah, investasi, dan dana pensiun juga tetap perlu berjalan sesuai kemampuan.
Bertambahnya anggota keluarga berarti bertambah pula kebutuhan yang perlu dilindungi.
Karena itu, dana darurat yang sebelumnya dipersiapkan untuk pasangan mungkin perlu ditambah setelah memiliki anak.
Ketika usia anak sudah memungkinkan, orang tua dapat mulai mengenalkan konsep sederhana seperti kebutuhan dan keinginan, menabung, serta menggunakan uang secara bijak.
Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu membangun pemahaman finansial sejak dini.
Baca Juga: Cara Menghitung Biaya Pendidikan Anak di Masa Depan
Tidak ada satu strategi keuangan yang dapat digunakan untuk selamanya.
Saat masih single, fokus dapat diarahkan pada membangun fondasi finansial. Setelah menikah, prioritas berkembang menjadi tujuan bersama. Ketika memiliki anak, kebutuhan pendidikan dan perlindungan keluarga menjadi semakin penting.
Karena itu, jangan hanya mengevaluasi keuangan ketika muncul masalah.
Setiap kali memasuki tahap kehidupan baru, lihat kembali anggaran, dana darurat, tabungan, investasi, aset, tujuan jangka panjang, serta perlindungan yang dimiliki.
Chubb Life Indonesia menyediakan berbagai pilihan Asuransi Perlindungan Jiwa yang dapat menjadi bagian dari strategi keuangan di berbagai tahap kehidupan.
Dengan perencanaan dan perlindungan yang disesuaikan dengan kebutuhan, kamu dan keluarga dapat lebih siap menghadapi perubahan sekaligus menjaga tujuan finansial tetap berada di jalurnya.