Family Care
Carnivore diet merupakan salah satu jenis dietyang belakangan ini banyak dibicarakan, terutama karena dianggap sederhana: Anda hanya makan produk hewani dan menghindari makanan nabati sepenuhnya.
Banyak orang ingin tahu apakah carnivore diet benar-benar efektif, aman, dan cocok untuk kebutuhan tubuh.
Sebelum Anda mencobanya, penting memahami bagaimana diet ini bekerja serta risiko dan manfaatnya. Simak pemaparan selengkapnya dalam artikel berikut ini.
Carnivore diet adalah pola makan yang berfokus 100% pada produk hewani. Tidak ada buah, sayur, biji-bijian, kacang-kacangan, atau makanan berbasis tumbuhan lainnya.
Intinya, melansir Cleveland Clinic, Anda hanya mengonsumsi daging merah, unggas, ikan, telur, serta beberapa produk hewani tinggi lemak.
Konsep carnivore diet berawal dari ide bahwa konsumsi karbohidrat dan serat dapat memicu peradangan dan gangguan metabolik pada sebagian orang. Dengan menghilangkan makanan nabati, diet ini mengklaim dapat:
Menurunkan berat badan
Mengurangi inflamasi
Meningkatkan energi
Mengurangi masalah pencernaan tertentu
Namun, klaim-klaim tersebut masih minim penelitian ilmiah berskala besar. Sebagian besar bukti lebih bersifat pengalaman pribadi. Makanya, dibutuhkan studi dan penelitian lanjutan pada topik ini.
Jika Anda berencana mencoba carnivore diet, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan agar tetap aman, dilansir dari Harvard Health, antara lain:
Pilih daging sapi, kambing, ayam, dan ikan dengan kualitas baik. Daging berlemak diperlukan sebagai sumber energi pengganti karbohidrat.
Hati, ginjal, dan organ lain mengandung vitamin penting seperti A, B12, dan zat besi. Dalam pola makan tanpa tumbuhan, organ meat membantu mencegah kekurangan nutrisi.
Keduanya menyediakan asam lemak omega-3 dan protein berkualitas tinggi.
Sosis, nugget, atau daging olahan lainnya sebaiknya dihindari karena tinggi garam dan pengawet.
Karena asupan karbohidrat hampir nol, tubuh dapat kehilangan elektrolit lebih cepat. Minum cukup air dan pertimbangkan konsumsi garam tambahan.
Bagi pemula, transisi mendadak dari diet biasa ke carnivore diet dapat memicu pusing, lemas, atau gangguan pencernaan. Pelan-pelan mengurangi karbohidrat dapat membantu tubuh beradaptasi.
Baca juga: Konsumsi Makanan Rendah Karbohidrat Untuk Badan Ideal
Walaupun bukti ilmiah masih terbatas, ada beberapa manfaat yang sering dilaporkan oleh sebagian orang yang menjalani carnivore diet:
Minim karbohidrat berarti tubuh beralih menggunakan lemak sebagai sumber energi. Hal ini bisa mendorong penurunan berat badan pada sebagian orang.
Tanpa karbohidrat, lonjakan gula darah lebih jarang terjadi sehingga diet ini kadang dianggap membantu orang dengan resistensi insulin.
Protein dan lemak hewani cenderung membuat Anda kenyang lebih lama, sehingga membantu mengurangi makan berlebih.
Beberapa orang dengan IBS, intoleransi gluten, atau gangguan pencernaan tertentu melaporkan merasa lebih baik saat menghindari makanan tertentu, termasuk serat tinggi.
Namun penting diingat bahwa manfaat-manfaat ini tidak berlaku untuk semua orang, dan penelitian resmi mengenai efektivitas jangka panjangnya masih minim.
Baca juga: Ciri-Ciri Diet Gagal: Mengapa Konsumsi Gula Harus Diperhatikan?
Carnivore diet bukan tanpa risiko. Berikut sejumlah kekurangan yang perlu Anda pertimbangkan:
Menghilangkan semua tumbuhan berarti tubuh berpotensi kekurangan vitamin C, serat, antioksidan, dan fitonutrien yang penting untuk sistem imun dan metabolisme.
Konsumsi daging merah dan lemak jenuh dalam jumlah besar dapat meningkatkan LDL (kolesterol jahat) pada beberapa orang.
Tanpa serat, sebagian orang mengalami sembelit atau perubahan pola buang air besar.
Penelitian, yang dikutip oleh Cleveland Clinic, menunjukkan bahwa konsumsi daging merah dalam jumlah tinggi dapat berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, walaupun konteks diet carnivore belum dikaji secara komprehensif.
Menghindari seluruh kategori makanan bisa membuat Anda cepat bosan dan sulit mempertahankannya jangka panjang.
Tanpa serat dari buah, sayur, atau biji-bijian, bakteri baik di usus akan kehilangan sumber makanannya. Dalam jangka panjang, hal ini bisa mengurangi keragaman mikrobiota usus dan berpotensi memicu masalah seperti peradangan, kembung, atau sensitivitas pencernaan.
Asupan makanan tinggi protein dan lemak dapat memengaruhi keseimbangan hormon, termasuk hormon reproduksi dan pengatur metabolisme. Pada beberapa orang, ini dapat berdampak pada siklus menstruasi, tingkat stres, hingga kualitas tidur.
Tidak semua orang cocok menjalani diet ekstrem seperti carnivore diet. Orang dengan kondisi berikut sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu:
Riwayat kolesterol tinggi
Penyakit jantung
Gangguan ginjal
Ibu hamil dan menyusui
Orang dengan kekurangan nutrisi tertentu
Bagi sebagian orang, diet ini bisa terasa terlalu membatasi, sehingga lebih sulit mempertahankan keseimbangan nutrisi jangka panjang.
Baca juga:Apa Saja Makanan Rendah Kalori yang Aman Dikonsumsi untuk Diet?
Carnivore diet adalah jenis diet ekstrem yang hanya mengandalkan makanan hewani dan menghilangkan seluruh makanan nabati. Meski ada laporan manfaat seperti penurunan berat badan dan stabilitas gula darah, risikonya tidak dapat diabaikan, mulai dari kekurangan nutrisi hingga potensi meningkatkan risiko penyakit kronis.
Jika Anda ingin mencoba diet ini, pastikan untuk memahami cara melakukannya dengan benar dan konsultasikan dengan tenaga medis atau ahli nutrisi.
Di sisi lain, menjaga kesehatan bukan hanya soal memilih jenis diet tertentu, tetapi juga memastikan perlindungan menyeluruh bagi tubuh Anda.
Chubb Medical Protection hadir untuk melindungi Anda dan keluarga melalui perlindungan rawat rumah sakit hingga tindakan bedah, perlindungan khusus anak, serta perlindungan penyakit kritis.
Dengan proteksi yang tepat, Anda dapat menjalani gaya hidup sehat dan aktif tanpa khawatir terhadap risiko kesehatan yang tidak terduga.