Untuk pengalaman situs yang optimal, sebaiknya gunakan browser yang berbeda.
Menggunakan Internet Explorer dapat mencegah Anda mengakses Chubb.com, dan beberapa fitur situs mungkin tidak berfungsi seperti yang diharapkan.

X
Lompat ke konten utama
Kesehatan Finansial

Kenali Tanda-tanda Saat Anda Perlu Menutup Kartu Kredit

03/2023
cut card in half

Memiliki kartu kredit bukan menjadi hal asing bagi masyarakat. Apalagi pada era digital, kartu kredit dianggap menjadi salah satu alat pembayaran penting. Hanya saja, memang penggunaan kartu kredit harus benar-benar diperhatikan agar justru tidak menjerumuskan Anda ke jerat utang.

JakPat Mobile Survey 
pernah merilis hasil survei pada Januari 2018, di mana 63% generasi milenial di Indonesia mengakui membutuhkan akan kartu kredit. Dari jumlah tersebut, 44% di antaranya mengaku memiliki kartu kredit karena mengincar diskon atau cashback, serta program cicilan yang disediakan oleh bank penerbit.

Selain itu, kartu kredit juga bisa menjadi salah satu "langkah awal" apabila Anda berniat mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR). Nantinya, setiap data transaksi penggunaan kartu kredit akan tercatat di Bank Indonesia, sehingga menentukan credit scoring Anda apabila mengajukan KPR.

Akan tetapi, tentu saja, di balik manfaat tersebut terselip hal yang dapat membuat Anda terjebak dalam masalah keuangan apabila tidak menggunakan kartu kredit dengan bijak. Terkadang masalah ini muncul ketika orang sering menunda pembayaran, sehingga akhirnya pun utang menumpuk.

Hal tersebut dapat dilihat dari data terbaru yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pada Juni 2020, tercatat nilai Non-Performing Loan (NPL) kartu kredit di Indonesia melonjak dan nilainya mencapai Rp2,65 miliar. Angka ini meningkat 16,03% apabila dibandingkan dari bulan sebelumnya.

Lantas apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan kartu kredit dan apa saja tanda-tanda Anda harus segera menutup kartu kredit? Simak penjelasan detailnya melalui pembahasan di bawah ini.

 

Pengeluaran tidak terkontrol

Dengan memiliki kartu kredit, biasanya orang-orang berpikir mereka memiliki "tabungan" lebih. Misalnya, saat Anda berselancar di e-commerce lalu melihat salah satu produk yang diinginkan, penggunaan kartu kredit dijadikan solusi instan apabila Anda tidak memiliki uang tunai untuk memiliki barang tersebut.

Hal ini sangatlah berbahaya apabila Anda justru tidak membayar penuh, atau bahkan menggunakan program cicilan. Jika tidak memiliki perencanaan keuangan yang baik, Anda akhirnya hanya menumpuk utang yang tentunya akan memengaruhi kondisi pengeluaran rutin per bulan.

 

Pembayaran minimun dijadikan jadi pilihan

Biasanya bunga yang dikeluarkan pihak bank untuk pemakaian kartu kredit adalah 2,9% per bulan. Angka ini mungkin terlihat ringan. Namun, apabila Anda menjadikan opsi pembayaran minimum setiap bulannya, hal ini bisa sangat merugikan karena bunga yang dibebankan akan dihitung secara harian.

Anda sebenarnya bisa bebas dari biaya bunga tersebut apabila dapat melunasi tagihan sebelum tanggal jatuh tempo. Jika pembayaran dilakukan sesudah jatuh tempo, bunga akan dihitung atas dasar selisih hari pembukuan dan juga pembayaran.

Hal ini berarti semakin cepat dan semakin besar jumlah yang Anda bayar, semakin murah pula bunga yang dibebankan kepada Anda. Jadi, apabila Anda sering membayar tagihan dengan jumlah minimum, sebaiknya mulai pikirkan rencana menutup kartu kredit Anda agar tidak menemui masalah keuangan di kemudian hari.

 

Rasio utang

Semakin sering menggunakan kartu kredit, rasio utang dalam hidup Anda pun akan terus meningkat. Anda bisa mengukur seberapa besar tingkat utang untuk dijadikan acuan menutup kartu kredit dengan menggunakan analisis Debt-to-Income Ratio (DTI), yang menunjukkan perbandingan antara utang dan pendapatan.

Perhitungan DTI tersebut diperoleh dari membagi jumlah pembayaran utang dengan pendapatan kotor per bulan. Perhitungan ini akan menghasilkan nilai desimal yang bisa dikalikan 100 sebagai acuan total acuan cicilan utang yang bisa ditolerasi. Batas amannya jangan sampai perhitungan rasio nilai DTI Anda melebihi 36%.

Sebagai contoh, pendapatan kotor per bulan Anda sebesar Rp20 juta. Sementara itu, Anda memiliki cicilan kredit mobil senilai Rp2,1 juta, dan cicilan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) sebesar Rp4,5 juta yang harus dibayar setiap bulan. Ditambah, Anda harus tetap membayar cicilan kartu kredit sebesar Rp1,5 juta untuk membeli gadget, atau kebutuhan lain yang konsumtif.

Jadi, total utang yang harus ditanggung setiap bulan sebesar Rp8,1 juta. Jika Anda bagikan nilai ini dengan total pendapatan kotor sebesar Rp20 juta, lalu dikalikan 100, nilai DTI Anda mencapai 40,5%. Ini artinya, rasio utang Anda sudah melebihi batas aman DTI dan segera pertimbangkan untuk menutup kartu kredit.

 

Jadi kebutuhan hidup

Apabila Anda sudah memiliki kebiasaan menjadikan transaksi kartu kredit untuk memenuhi kebutuhan hidup, ini menjadi salah satu tanda segera menghentikan penggunaannya. Sebab, karena kemudahan menggunakannya, kita sering terlena menggunakan kartu kredit untuk membayar makan siang, bahan bakar kendaraan, hingga transportasi untuk pergi bekerja setiap hari.

Jika Anda berada dalam situasi ini, sebaiknya segera lunasi seluruh tagihan tersebut agar utang semakin tidak menumpuk. Setelah itu, segera tutup kartu kredit Anda agar tidak menjadi beban finansial pada masa depan.

Selain mengontrol kartu kredit, yang tak kalah penting ialah memproteksi diri dengan asuransi jiwa untuk menghindarkan keluarga dari utang yang belum lunas jika Anda tutup usia. Prioritaskan diri  Anda dan keluarga dan selamat menimbang!

SEO: kartu kredit