Lompat ke konten utama
Kesehatan Finansial

Waspadai Skema Pay Later Yang Malah Menjadi Pain Later

04/2023
Pay Later

Dari mulai situs belanja daring hingga layanan dompet digital, Anda mungkin kerap familiar dengan istilah Pay LaterYa, metode "beli sekarang, bayar nanti "ini, mulai menjadi salah satu opsi pembayaran digital selain kartu kredit/debit serta metode transfer mobile.

Buy Now, Pay Later 
memang terdengar sepele. Skema pembayaran ini memang menarik bagi mereka yang memiliki anggaran terbatas. Bayangkan, seseorang bisa langsung memperoleh barang tanpa harus memikirkan biayanya saat ini.

Bagai buah simalakama, keberadaan Pay Later justru membuat efek samping bagi penggunanya. Antara lain memicu impulsive buying berlebihan, khususnya dalam membeli produk-produk yang tidak dibutuhkan. Selain itu, ini juga bisa melanggengkan stereotip milenial tentang kepuasan instan, dimana mereka bisa menikmati barang tanpa harus menabung.

Ada cukup alasan mengapa Pay Later makin diminati. Pertama, penetrasi kartu kredit di Indonesia yang masih rendah. CodaPay berdasarkan risetnya tahun 2016, seperti dikutip dari katadata mengatakan, penetrasi kartu kredit nasional hanya 1,6%. Sebaran kartu kredit ini jauh tertinggal dibanding Malaysia yang mencapai 20,2%, Singapura 35.4% dan Vietnam  1.9% mencapai 1,9 persen. Alhasil, kebutuhan akan cicilan kredit online kian dibutuhkan, khususnya bagi generasi milenial dan Gen-Z.

Kedua
, makin banyak penyedia layanan keuangan online alias fintech yang muncul menawarkan diversifikasi produk ke ranah pembiayaan kredit. Sebut saja dompet digital GoPay yang menyediakan fitur Pay Later. Begitupun dengan OVO melalui OVO Pay Later. Hal senada juga dilakukan oleh perusahaan OTA Traveloka dimana melalui Traveloka Pay Later, pelanggan bisa traveling terlebih dahulu, namun membayarnya kemudian. 

 

Pro & Kontra

Ada pro dan kontra terkait Pay Later ini. Untuk yang Pro, produk ini menarik karena memungkinkan Anda untuk berbelanja dan membayarnya pada hari gajian. Pay Later juga bisa digunakan bagi mereka yang membagi biaya pembelian besar ke pembayaran yang lebih kecil. Proses yang lebih muda ketimbang pengajuan kartu kredit juga menjadi salah satu alasan Pay Later digemari.

Bagi yang kontra, jika Anda membayar tagihan terlambat, ada biaya keterlambatan. Jika Anda gagal membayar, itu dapat mempengaruhi riwayat kredit Anda. Buruknya, debt collector alias penagih utang terlibat dan mendatangi Anda suatu saat.

Hal lain yang cukup mesti diwaspadai ialah tidak semua pelanggan tahu sejauh mana batas kemampuan mereka. Beberapa pemain kredit online ini menawarkan limit yang jauh lebih besar daripada kemampuan mereka membayar.

Setelah Anda melakukan pembayaran, Anda sulit untuk berubah pikiran dan membatalkan pembelian. Jika Anda mesti me-refund karena alasan tidak cocok dengan produk yang diberikan, prosesnya bisa memakan waktu yang panjang.

Namun, ada sisi gelap dari Pay Later, khususnya terkait mentalitas kepuasan instan. Dikhawatirkan, generasi milenial akan lepas kendali dalam menggunakannya. Meski membeli sekarang bayar nanti tampak sebagai keputusan sederhana. Namun, banyak orang terjebak oleh tagihan mereka kelak. Sebab, mereka nyatanya tidak memiliki uang di masa depan untuk melunasinya.

Di Amerika, salah satu pemain terbesar Pay Later, yakni Afterpay, melaporkan adanya biaya keterlambatan sebesar US$ 18,2 juta atau setara Rp 256 miliar. Ini merupakan 17% dari total pendapatan mereka selama setahun. Yang terjadi berikutnya adalah para nasabah akan dihantui oleh tagihan kredit yang membuat hidup mereka menjadi stres dan berantakan.

 

Solusi: Pay Now, Consume Later

Lantas apa solusinya? Jika Anda menginginkan sesuatu, namun tak memiliki dana yang cukup, jalan terbaik adalah dengan menabung. Memupuk uang sedikit demi sedikit demi mencapai suatu tujuan tertentu, misalnya membeli handphone, menjadikan Anda semakin mencintai produk yang akan Anda miliki nanti. Sebab, ada waktu dan kesabaran yang Anda berikan sebelum produk itu diperoleh, ketimbang membelinya secara instan apalagi dengan cara berutang.

Selain itu, ketimbang dimanjakan dengan Pay Later yang sering kali digunakan untuk membeli produk-produk impulsive di e-commerce, ada yang lebih penting untuk dimiliki, yaitu asuransi. Ini adalah konsep Pay Now, Consume Later yang justru membuat Anda jauh lebih merasa aman.