Lompat ke konten utama
Kesehatan Finansial

Awas, Godaan Belanja Implusif Bikin Kantong Jebol

03/2023
big sale sign

Godaan berbelanja sebagai bagian dari gaya hidup saat ini semakin besar seiring kehadiran e-commerce atau online marketplace. Bila dahulu, godaan berbelanja baru terasa ketika Anda tengah berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan atau mal; maka saat ini, godaan belanja dengan mudah menghampiri lewat media sosial di gadget Anda.

Keberadaan aplikasi marketplace ditambah gencarnya iklan-iklan yang ditampilkan melalui berbagai kanal media sosial, membuat banyak orang lebih mudah tergoda berbelanja tanpa rencana.

Belanja tanpa perencanaan sebelumnya biasa disebut juga impulsive buying. Dalam tindakan belanja impulsif, seseorang lebih banyak didorong oleh keinginan ketimbang kebutuhan. Apakah Anda sering mengalaminya? Bila iya, sebaiknya Anda berhati-hati. Sering terjebak belanja impulsif bisa membahayakan kesehatan keuangan Anda, lho. Tidak percaya? Yuk, mari melihat apa saja bahaya belanja impulsif bagi kondisi dompet.

 

1. Pengeluaran tak terkendali

Sering terkena jebakan belanja impulsif sudah pasti akan mempengaruhi isi kantong Anda. Yang pasti, pengeluaran Anda karena acara berbelanja yang sifatnya konsumtif atau sekadar menurut gaya hidup, akan terus membengkak. Bila Anda tidak memiliki batas anggaran untuk berbelanja suka-suka alias belanja impulsif, bisa-bisa pengeluaran akibat impulsive buying menjadi tak terkendali. Efek terburuk, pendapatan yang Anda hasilkan dari kerja keras bisa menguap begitu saja untuk pengeluaran yang sifatnya kurang penting atau konsumtif belaka.

 

2. Fokus finansial terganggu

Godaan belanja impulsif yang sering Anda turuti perlahan tapi pasti dapat membuat Anda kehilangan fokus pengelolaan keuangan. Sebagai contoh, seharusnya Anda menyisihkan 30% pendapatan untuk membayar beban cicilan utang, lalu 50% untuk biaya hidup sehari-hari termasuk anggaran untuk belanja suka-suka dan 20% untuk kebutuhan tabungan dan investasi. Namun, karena sering menyerah pada godaan belanja impulsif, Anda bisa terjebak menyabotase rencana anggaran yang sudah Anda buat.

Misalnya, anggaran untuk biaya hidup sehari-hari dan belanja suka-suka seharusnya tidak melampaui 50% pendapatan. Tapi, karena Anda sering tergoda belanja impulsif, akhirnya pengeluaran untuk pos tersebut membengkak hingga memakan 20% anggaran yang seharusnya Anda tempatkan untuk kebutuhan tabungan dan investasi. Bila ini berlangsung terus menerus, kesehatan keuangan Anda bisa terganggu.

 

3. Abai dengan kebutuhan lebih penting

Untuk bisa mewujudkan kondisi keuangan yang sehat, setidaknya ada 3 hal penting yang perlu Anda lakukan. Pertama, memastikan beban utang masih dalam taraf yang sehat. Beban cicilan utang maksimal memakan 30% dari total pendapatan rutin Anda. Kedua, memiliki dana darurat yang memadai. Apabila Anda masih lajang, upayakan memiliki dana darurat minimal sebesar tiga kali besar pengeluaran bulanan. Sesuai namanya, dana darurat penting untuk membantu Anda mengantisipasi kebutuhan mendadak yang membutuhkan dukungan dana tunai segera.

Ketiga
, kecukupan proteksi asuransi. Asuransi membantu Anda mengelola risiko finansial akibat kejadian-kejadian yang tak terduga dan membutuhkan banyak biaya misalnya kejadian sakit, kecelakaan, dan sebagainya. Setiap orang perlu memiliki setidaknya asuransi kesehatan dan asuransi jiwa bila bertindak sebagai pencari nafkah.

Nah, bila tiga hal tersebut masih belum ideal tetapi keuangan Anda justru sering terganggu oleh belanja impulsif, akibatnya bisa fatal bagi keuangan Anda kelak. Lebih baik Anda mulai berkomitmen memastikan tiga hal tersebut terpenuhi lebih dulu alih-alih banyak menghabiskan uang untuk belanja impulsif.

 

4. Lupa berinvestasi

Generasi zaman sekarang banyak yang terjebak dengan prinsip YOLO alias you only live once. Ini adalah gaya hidup yang mementingkan kebutuhan atau keinginan hari ini ketimbang memikirkan kebutuhan di hari depan. Efek buruknya, aksi belanja impulsif untuk mengejar kesenangan hari ini pun semakin sering terjadi. Sesekali menuruti dorongan belanja impulsif sah-sah saja. Namun, pastikan pula Anda tidak melupakan kebutuhan berinvestasi untuk mempersiapkan hal-hal di depan kelak. Seperti kebutuhan dana pensiun, kebutuhan dana sekolah anak dan sebagainya.

Jalan keluarnya, siapkan saja budget khusus untuk belanja impulsif dan upayakan untuk disiplin. Artinya, bila budget untuk belanja impulsif sudah habis, Anda harus berkomitmen untuk tidak lagi mengeluarkan uang untuk belanja tanpa perencanaan. Di saat yang sama, alokasikan juga sebagian pendapatan, minimal 10%, untuk kebutuhan berinvestasi secara rutin. Dengan begitu, antisipasi kebutuhan di depan tetap Anda lakukan tanpa terganggu oleh godaan belanja impulsif.

 

5. Stabilitas keuangan mudah terganggu

Sering terjebak godaan berbelanja tanpa perencanaan juga membuat stabilitas keuangan Anda mudah terguncang. Ini karena tidak ada batas jelas berapa bagian penghasilan yang boleh Anda gunakan untuk berbelanja suka-suka. Akhirnya, pendapatan yang Anda hasilkan bisa banyak terkuras untuk pengeluaran yang tidak jelas karena tidak terencana.

Efek lanjutannya, keuangan Anda mudah terguncang ketika menghadapi tantangan. Misalnya, karena dana darurat Anda minim akibat sering terpakai untuk belanja impulsif, ketika dihadapkan pada situasi yang membutuhkan dana tunai segera, bisa-bisa Anda terjatuh pada utang untuk memenuhinya.

Mulai batasi pengeluaran Anda untuk berbelanja tanpa perencanaan dan segera mengelola pendapatan sesuai prioritas keuangan sehat. Dengan begitu, stabilitas keuangan Anda bisa lebih terjaga dan tidak mudah terjatuh pada jebakan utang akibat godaan belanja impulsif.

Itulah 5 bahaya utama yang mengintai kesehatan keuangan apabila Anda sering terjebak godaan belanja impulsif. Lekas batasi dan pastikan menjaga keuangan agar selalu sehat!